Monday, 8 May 2017

Kata-kata Mutiara dari Umur bin Khattab ra.

Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri menunjukkan kata-kata lemah lembut
***
Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yg menimbulkan persangkaan maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk padanya
***
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan,”
(Shifatush Shafwah, I/286) Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
Tidak ada ertinya Islam tanpa jemaah dan tidak ada ertinya jemaah tanpa pemimpin dan tidak ada ertinya pemimpin tanpa ketaatan
***
Aku tidak pedulikan atas keadaan susah atau senangku kerana aku tidak tahu manakah diantara keduanya yang lebih baik dariku
***
"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
“Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai,” (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126) Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
Kalau kita bermewah-mewah di dunia akan kurang ganjarannya di akhirat
***
“Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya,” (Ihya’ Ulumuddin 4/203) Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
Apabila engkau melihat orang yang berilmu mencintai dunia, maka curigailah ia mengenai agamanya, kerana orang yang mencintai sesuatu ia akan menyibukkan diri dengan apa yang dicintainya itu
***
“Duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah,” (Tahfdzib Hilyatul Auliya I/71) Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rizki yang lebih baik daripada sabar," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang karena mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
***
Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
***
Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
***
Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
***
Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
***
Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Nasehat Syech Ibnu Arabi


[1] “Janganlah Anda menghina sesuatu pun dari perbuatan Anda, sebab Allah tak pernah menghinanya ketika Dia menciptakan dan mewajibkannya. Allah tidak mewajibkan suatu perintah kecuali Allah telah menyiapkan pertolongan dan bantuan untuk menunaikannya hingga Dia mewajibkan perintah itu kepada Anda. Sementara martabat Anda lebih agung di sisi-Nya karena Anda adalah tempat untuk mewujud apa yang Dia wajibkan kepada Anda.”

[2] “Barangsiapa percaya kepada takdir, ia akan tenang. Barangsiapa memperhatikan, ia akan diperhatikan. Barangsiapa bertawakal, ia akan memperoleh keyakinan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu yang tidak berarti baginya, maka akan dihilangkan sesuatu yang berarti baginya.

[3] “…jangan berdebat, berdiskusi, bahkan berbicara dengan orang-orang yang menisbahkan sekutu kepada Allah.”

[4] “Lihatlah seluruh ciptaan, terutama umat manusia, dengan kehendak baik — menerima, mengakui,
memaafkan , melayani, dan mencintai . Jadikanlah hal itu sebagai watakmu dalam berhubungan dengan dunia.”

[5] “Jika orang yang telah kamu bantu itu membuatmu sedih sebagai balasannya–jika tanggapan-tanggapannya, cara-cara, kebiasaan-kebiasaannya menyebalkan–bersabar dan maafkanlah.”

[6] “Jangan buang waktumu dalam perbincangan tak berguna.”

[7] “Temukan sahabat yang tepat, yang akan menjadi pendukungmu, seorang kawan perjalanan yang baik di jalan kebenaran.”

[8] “Keikhlasan adalah ciri pencari sejati.”

[9] “ Untuk melangkah di jalan ini , untuk mengikuti jejak para nabi, kamu harus ringan–ringan dalam barang-barang duniawi ini, ringan dalam perhatianmu pada dunia ini .”

[10] “Sebuah tanda keberatan yang akan menghalangimu untuk maju adalah menjadi beban orang lain; baik menjadi seorang tanggungan orang lain atau membiarkan orang lain membawa bebanmu.”

[11] “Dalam semua tindakan, pergaulan, dan kata-katamu–takutlah kepada Allah.”

[12] “Dunia ini adalah dasar ujian; jangan cari kesenangan dan kekayaan di dalamnya.”

[13] “Makanlah sedikit. Itu akan meninggalkan lebih banyak ruang dalam hatimu dan akan meningkatkan hasratmu untuk berdoa dan taat.”

[14] “ Setiap usai shalat, buatlah perhitungan atas tindakan-tindakanmu sejak shalat terakhir. Dengan demikian diharapkan bahwa hanya perbuatan-perbuatan baik dan tindakan-tindakan yang pantas bagi muslim-lah yang dilakukan di antara waktu-waktu shalat itu.”

[15] “…perbuatan yang dilakukan dengan peduli, dengan perhatian kepada orang lain, sesuai dengan pergaulan yang pantas, demi ridha Allah, adalah juga ibadah.”

[16] “Tautkanlah hatimu kepada Allah dengan rendah hati dan penuh kedamaian.”

[17] “ Hal yang penting bagimu adalah selalu waspada, penuh perhatian pada apa yang melintas dalam pikiran dan hatimu. Pikirkan dan periksalah pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan ini. Cobalah mengendalikannya. Waspadalah pada keinginan hawa nafsumu, lakukan perhitungan-perhitunganmu dengannya.”

[18] “Sadarlah, malulah, di hadapan Allah. Hal itu akan mendorongmu untuk waspada. Kamu pun akan mempedulikan apa yang sedang kamu lakukan dan katakan atau pikirkan, dan pelbagai pemikiran dan perasaan yang buruk dalam pandangan Allah tidak akan bisa hinggap dalam hatimu.”

[19] “ Anggaplah setiap perbuatanmu sebagai perbuatan terakhirmu , setiap shalat mungkin sujud terakhirmu; kamu mungkin tidak punya kesempatan lagi.”

[20] “Allah tidak menerima perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan dengan tidak sadar dan tidak ikhlas. Dia Ta’ala menyukai perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan dalam kesadaran dan keikhlasan.”

[21] “…harus mengenali sisi-sisi burukmu dan membersihkan dirimu darinya.”

[22] “Hubunganmu dengan siapapun haruslah dilandasi tingkah laku terbaik– tapi hal ini bisa berbeda-beda sesuai kondisi dan lingkungan. Perilaku, bukanlah sebuah bentuk. Perilaku bukanlah bertindak dengan cara yang sama pada setiap kesempatan terhadap setiap orang. Perilaku yang baik, tidak dilakukan demi keuntungan pribadi, tapi demi Allah”

[22] “ Sangatlah baik bila kamu memisahkan diri dari orang-orang yang tidak percaya pada apa yang kamu yakini , yang tidak melakukan apa yang kamu lakukan , dan yang melawan imanmu. Namun, pada saat yang sama, sebaiknya kamu tidak berpikir buruk tentang mereka atau mencela mereka karena demikian mereka adanya.”

[23] “ Jangan puas dengan keadaan spiritual (hal)-mu; tingkatkan! Majulah tanpa henti, tanpa gangguan. Dengan tujuan yang teguh, berdoalah kepada Allah, Sang Mahabenar, untuk membawamu dari keadaanmu saat ini menuju keadaan berikutnya. Dalam setiap keadaan, dalam setiap kemajuan, sambil melakukan sesuatu atau tidak, bersikaplah senantiasa ikhlas dan jujur.”

[24] “Belajarlah untuk memberi, baik kamu punya banyak atau sedikit, baik saat suka maupun duka.”

Nasehat Dzun Nun Al-Mishri untuk Para Pemuda

Dzun-Nun Al-Mishri memberi wasiat kepada seorang pemuda, “Hai anak muda! Ambilah senjata celaan bagi dirimu, dan gabungkanlah dengan menolak kezaliman, maka di Hari Kiamat engkau akan memakai jubah keselamatan. Tahanlah dirimu dalam taman ketentraman, rasakanlah pedihnya fardhu-fardhu keimanan, maka engkau akan memperoleh kenikmatan surgawi. Teguklah cawan kesabaran dan persiapkan ia untuk kefakiran hingga engkau menjadi orang yang sempurna.”
Lalu pemuda itu bertanya, “Diri mana yang sanggup melakukan itu?”

Dzun-Nun Al-Mishri menjawab, “Diri yang bersabar atas lapar, yang teringat pada jubah kezaliman, diri yang membeli akhirat dengan dunia tanpa syarat dan tanpa kecuali, dan diri yang memperisaikan kerisauan, yang mengiringi kegelapan pada kejelasan.
Diri yang merasa cukup dengan makanan sedikit, menundukkan pasukan nafsu, dan bersinar dalam kegelapan. Ia bercadarkan kudung berhias, dan menuju kemuliaan dalam kegelapan. Ia meninggalkan penghidupan. Inilah diri yang berkhidmat, yang mengetahui hari yang akan datang. Semua itu dengan taufik Allah yang Mahahidup dan Maha Berdiri Sendiri.”