Sunday, 19 July 2020

Inilah Siksaan Paling Ringan di Neraka


Siksaan yang Paling Ringan di Neraka

عن أبى سعيد الحذرى رضي اللَّه عنه قال:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَنْتَعِلُ بِنَعْلَيْنِ مِنْ نَارٍ ، يَغْلِي دِمَاغُهُ مِنْ حَرَارَةِ نَعْلَيْهِ. رواه مسلم.

Dari Abi Sa'id Al Hudzri radhiyallahu anhuma berkata :
Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh siksaan yang paling ringan bagi penduduk neraka adalah ia memakai sandal dari api yang dapat mendidihkan otaknya karena panasnya kedua sandalnya.” (HR. Muslim).

Pelajaran yang terdapat didalam hadist:

1- Berdasarkan keterangan hadis tersebut, maka orang yang mendapat siksaan yang paling ringan di neraka adalah ia yang disulutkan api di kakinya hingga dapat mendidihkan otak yang ada di kepalanya.
2- Jika seorang hamba bertambah pengetahuannya terhadap neraka pasti meningkat rasa takutnya terhadap neraka. 
3- Jika rasa takut ini meningkat, maka harus bertambah kesalehan dan perhatiannya terhadap waktunya. Karena kerugian di akhirat adalah sebesar-besar kerugian sehingga ia menangis sampai air matanya menggenang laksana sungai. "Sesungguhnya penduduk neraka akan menangis sehingga seandainya kapal berlayar di atas air matanya maka ia akan berjalan. Mereka menangis darah sebagai pengganti air mata." (HR. al-Hakim, beliau berkata: shahihul Isnad)

Tema hadist yang berkaitan dengan al qur'an :

1- Penyesalan di akhirat adalah penyesalan yang tiada terkira. Sampai-sampai digambarkan, mereka menggigit tangannya sendiri sebagai bentuk penyesalan dan kerugian. Berangan-angan kalau saja ia dikembalikan lagi ke dunia maka ia akan menjadi orang beriman yang baik. Namun penyesalan itu tak lagi ada gunanya.

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul"." (QS. Al-Furqan: 27

2- Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (At-Tahrim: 6) Yaitu bertakwalah kamu kepada Allah dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk bertakwa kepada Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [At -tahrim: 6]

Larangan Ghuluw Dalam Agama Islam


*"Larangan Ghuluw dalam Agama"*

عن إبن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ.

Dari Ibnu Abbas rodhiallohu anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallama bersabda:
“Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR an-Nasa’i 5/268, Ibnu Majah no.3029, al-Baihaqi, at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah, dan dishahihkan oleh al-Albani, Imam an-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Yang dimaksud "GHULUW" dalam hadits ialah: berlibahan dalam melaksanakan agama sampai melampaui batas.
2- Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan ummatnya dari sikap ghuluw dan mengatakan dengan jelas bahwa itu adalah sebab kehancuran dan kebinasaan, karena menyelesihi syari’at dan menjadi penyebab kebinasaan ummat-ummat terdahulu. 
3- Bahkan ghuluw menyebabkan manusia bisa menjadi kafir dan meninggalkan agama mereka.
4- Di antara bentuk ghuluw, yaitu sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih dengan mengagungkan mereka, membangun kubur-kubur mereka, membuat patung-patung yang menyerupai mereka, bahkan sampai akhirnya mereka disembah.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

- Penyakit pertama yang paling besar yang terjadi pada kaum Nûh Alaihissallam , sebagaimana Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang mereka.

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا ، وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا .وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا . وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا

Nuh berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaguts, Ya‘uq dan Nasr. Dan sungguh, mereka telah menyesatkan orang banyak; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” [Nûh/71:21-222- 23-24]”

Hati-hati Dengan Riya' dan Sum'ah


Hati- hati dengan Riya' dan Sum'ah
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ و حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ جُنْدَبًا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَهُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ(البخاري)
Berkata Nabi shalallahu alaihi wa salam:
Barang siapa yang memperdengarkan (amalnya) maka Allah akan memperdengarkannya, dan barang siapa yang pamer (amalnya) maka Allah akan pamer dengan orang tersebut. (Bukhori)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1- Orang yang beramal dan memperdengarkan amalnya kepada orang lain maka dia termasuk orang yang  memamerkan amalnya kepada orang lain.
2-  Jika begitu maka tidak ada keikhlasan dalam beramal bagi orang yang suka memperdengarkan amalnya. 
3- Orang yang suka pamer nanti Allah akan pamer terhadap orang tersebut bahwa Allah maha kaya dan tidak membutuhkan amal dari orang tersebut.
4- Sebenarnya hadits ini sangat simple dan praktis namun  sulit dilakukan. 
5- Seorang manusia yang beramal harus memurnikan niatnya karena Allah dan tidak boleh menceritakan amalnya tersebut. 
6- Penceritaan terhadap amal seseorang berarti manusia tersebut tidak ikhlas dengan amalnya. 
7- Sebenarnya jika seseorang itu imannya kuat, dan didorong ilmu yang cukup maka ia akan menjadi orang ikhlas dalam beramal dan untuk memperkuat iman itu harus dilakukan secara integral dan kaffah.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran: 

1- Yakni dengan mengerjakan amal yang semata-mata hanya karena Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah syarat utama dari amal yang diterima oleh-Nya, yaitu harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang Satu; Oleh itu, sesiapa yang percaya dan berharap akan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan sesiapapun dalam ibadatnya kepada Tuhannya".
[Surat Al-Kahfi 110]

2- Sifat orang munafik diantaranya, tiada ikhlas bagi mereka, dan amal mereka bukan karena Allah, melainkan hanya ingin disaksikan oleh manusia untuk melindungi diri mereka dari manusia; mereka melakukannya hanya dibuat-buat. Karena itu, mereka sering sekali meninggalkan salat yang sebagian besarnya tidak kelihatan di mata umum, seperti salat Isya di hari yang gelap, dan salat Subuh di saat pagi masih gelap.

إِنَّ الْمُنافِقِينَ يُخادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خادِعُهُمْ وَإِذا قامُوا إِلَى الصَّلاةِ قامُوا كُسالى يُراؤُنَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia.[An Nisa:48].

Keutamaan Mengurus Anak Yatim Dalam Islam


*"Keutamaan Mengurus Anak Yatim"*

عن أَبي هريرة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه ﷺ: كَافِل الْيتيمِ -لَهُ أَوْ لِغَيرِهِ- أَنَا وهُوَ كهَاتَيْنِ في الجَنَّةِ وَأَشَارَ الرَّاوي -وهُو مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ- بِالسَّبَّابةِ والْوُسْطى. رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah rodhiAllahu anhu berkata, bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam:
"Pengurus anak yatim di surga, saya dan dia seperti dua jari ini, baik miliknya atau milik yang lain" dan dia Malik bin Anas berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.(HR. Muslim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1- Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
2- Mengurus anak yatim adalah dengan mengurus dan berusaha memberikan hal yang bermaslahat baginya, baik memberinya makan, pakaian dan mengembangkan hartanya jika ia memiliki harta dan mendidiknya. Namun jika ia tidak memiliki harta, maka diberi infak dan pakaian sambil mengharap keridhaan Allah Ta'ala. 
3- Keutamaan ini akan diperoleh bagi orang yang mengurus dengan hartanya sendiri atau dengan harta anak yatim dengan kewalian yang syar’i.
4- Maksud "miliknya atau milik yang lain" dalam hadits di atas adalah baik anak yatim itu kerabatnya atau orang lain. Contoh kerabatnya adalah jika yang mengurusnya kakeknya, saudaranya, ibunya, neneknya, pamannya, bibinya, suami ibunya, saudara laki-laki ibunya atau kerabatnya yang lain. Sedangkan maksud "orang lain" adalah orang yang tidak memiliki hubungan kerabat dengannya.
5- Memakan hartanya secara ma'ruf (wajar); sesuai kepengurusannya terhadapnya untuk hal yang bermaslahat baginya dan mengembangkan hartanya, maka tidak mengapa. Adapun jika lebih di atas ma'ruf, maka sebagai suht; harta yang haram.
6- Ada empat pendapat ulama tentang contoh memakan harta anak yatim secara ma'ruf (wajar), yaitu:
a- Ia mengambilnya, namun sifatnya hanya sebagai pinjaman.
b- Ia memakannya sesuai kebutuhan tanpa berlebihan.
c- Ia mengambilnya ketika melakukan sesuatu untuk anak yatim.
d- Ia mengambilnya ketika terpaksa. Jika ia sudah mampu, nanti akan dibayarnya, namun jika ia tidak mampu, maka menjadi halal (Lihat kitab Zaadul Masir karya Ibnul Jauzi pada tafsir ayat di atas).
7- Seseorang yang bisa mengurus anak-anak yatim dengan sukses baginya berhak mendapatkan surga bersama Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Tentang memakan harta anak yatim

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (Qs. An Nisaa': 10)

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa." (Qs. Al Israa': 34)

2- Para ulama berkata, "Setiap wali bagi anak yatim, jika ia fakir, lalu memakan hartanya secara ma'ruf (wajar); sesuai kepengurusannya terhadapnya untuk hal yang bermaslahat baginya dan mengembangkan hartanya, maka tidak mengapa. Adapun jika lebih di atas ma'ruf, maka sebagai suht; harta yang haram, berdasarkan firman Allah Ta'ala,

وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ

"Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. " (Qs. An Nisaa': 10)

Nasehat Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki Al Hasani

• ABUYA AS-SAYYID MUHAMMAD IBN AL-ALAWI AL-MALIKI AL-HASANI •

 ينبغى لطالب العلم من أوراد تحرسه من الغواية والضلالة
🍂Seharusnya seorang santri mempunyai bacaan wirid untuk menjaga dirinya dari kesesatan.

 السمع والتواضع مع قلة العلم خير من المكر والكبر مع كثرة العلم
🍂Sikap patuh dan rendah hati yang dibarengi kurangnya ilmu itu lebih baik daripada sifat licik dan sombong yang dibarengi banyaknya ilmu.

 لا يجتمع العلم مع اللعب
🍂Ilmu tidak akan berkumpul dengan permainan.

 العلم قد يستدرك، ولا تستدرك الخدمة
🍂Ilmu masih bisa dicari tetapi tidak demikian halnya dengan khidmat (pengabdian).

 الزهد ليس فى الملبس ولا الهيئة، وإنما ههنا (أى القلب)
🍂Sifat zuhud bukan terletak pada pakaian dan penampilan, tetapi terletak di sini (yakni hati).

 شرعنا يتقبل العقل، ولكن لا يحكمه العقل
🍂Syariat kita (agama Islam) menerima peran akal, akan tetapi tidak bisa diatur oleh akal.

 الجاهل من لم ينتفع من بركة المناسبات
🍂Orang bodoh adalah orang yang tidak bisa mengambil manfaat dari berkahnya momen yang baik.

 اجعل الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بينك وبين مناجاتك لربك
🍂Jadikanlah shalawat kepada Rasulullah senantiasa berada di antara kamu dan munajatmu.

 عليكم بملازمة العلم والدعوة واتباع منهج السلف الصالح
🍂Wajib bagi kalian untuk senantiasa menyebarkan ilmu dan berdakwah serta mengikut ajaran (salaf) pendahulu kita.

 قليل مع التثبت خير من كثير مع التهور
🍂Sedikit tapi mantap itu lebih baik daripada banyak tapi ngawur.

 لا يكفى للعالم علمه وحده ما لم تصحبه الحكمة
🍂Seorang yang alim tidak cukup dengan ilmunya semata, selagi belum dibarengi dengan sifat bijaksana.

 طالب العلم يكون أبعد الناس عن المعاصى والفواحش
🍂Seharusnya seorang santri adalah manusia yang paling jauh dari kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan keji.
__________

_Semoga Bermanfaat._

Kemesraan dan Keromantisan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam Dalam Berkeluarga

Imam Abdullah El-Rashied merinci setidaknya ada 14 poin kemesraan dan keromantisan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada istrinya.

Berikut ulasan singkat 14 bentuk keromantisan Nabi Muhammad SAW tersebut.

1. Kecupan Mesra

Salah satu bentuk keromantisan Nabi Muhammad SAW yakni kerap mengecup mesra istrinya. Hal itu diterangkan dalam sebuah hadis dalam kitab Dzakhiratul Huffazh.

"Diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA: Sungguh Nabi SAW ketika mencium salah satu istrinya, beliau mengecup lidahnya" (HR Maqdisi).

2. Tiduran di Pangkuan Istri

Untuk menunjukkan rasa cinta, Rasulullah SAW tak jarang juga tiduran di pangkuan sang istri.

Sayyidah Aisyah RA meriwayatkan sebuah hadis yang bila diterjemahkan seperti berikut.

"Dahulu Rasulullah SAW meletakkan kepalanya di pangkuanku kemudian membaca (Alquran) sedangkan aku dalam keadaan haid" (HR Abu Dawud [nomor 227], Bukhari [nomor 288], Muslim [nomor 454], Ahmad [nomor 24442] dan Ibnu Majah [nomor 626]).

3. Membelai istri

Selain dua keromantisan tersebut, Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan sikap penuh cinta lainnya.

Diriwayatkan dari Urwah bin Zubair RA, belia meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA berkata:

"Hampir setiap hari Rasulullah SAW mengunjungi semua istrinya, lantas mendekatinya satu per satu di tempatnya (rumah). Kemudian Rasulullah SAW mencium dan membelainya tanpa bersetubuh atau berpelukan. Aisyah berkata, "Lantas beliau mengindap di  (rumah) istri yang mendapat gilirannya" (HR Daruquthni [nomor 3781], Imam Ahmad [24809], Imam Al-Hakim [nomor 2710], Abu Dawud [1823] dan At-Thabrani [19577]).

4. Membiarkan istri menyisir rambutnya

Imam Abdullah El-Rashied menerangkan Rasulullah SAW juga menunjukkan sisi romantisme dengan membiarkan sang istri menyisir rambutnya.

Sayyidah Aisyah RA berkata, "Dahulu aku menyisir rambut Rasulullah SAW sedangkan aku dalam keadaan haid" (HR Bukhari dan Muslim)

5. Mandi bersama

Selain itu, Nabi Muhammad SAW kerap mengajak istrinya mandi bersama.

Seperti diriwayatkan Sayyidah Aisyah RA, dia mengatakan, "Dahulu aku mandi junub bersama Rasululah SAW dari satu bejana di mana tangan kami bergantian (mengambil air) di dalamnya, (HR Bukhari, Muslim dan Ibnu Hibbah mencantumkan riwayat tambahan, "Sedangkan tangan kami (Aisyah dan Rasulullah) saling bersentuhan).

6. Menempelkan mulut pada bekas makan dan minum istri

Sisi kemesraan lain yang diperlihatkan Rasulullah SAW yakni menempelkan mulut pada bekas makan atau minum istrinya.

Kemesraan ini dianggap melebihi keromantisan makan sepiring berdua. Dalam sebuah hadis, Sayyidah Aisyah RA berkata:

"Terkadang Rasulullah SAW disuguhkan sebuah wadah (air) kepadanya, kemudian aku minum dari wadah itu sedangkan aku dalam keadaan haid. Lantas Rasulullah SAW mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulutnya di bekas tempat minumku. Terkadang aku mengambil tulang (yang ada sedikit dagingnya) kemudian memakan bagian darinya, lantas Rasulullah SAW mengambilnya dan meletakkan mulutnya di bekas mulutku.” (HR Ahmad [nomor 24373]).

7. Mengusap air mata istri

Dalam sebuah hadis yang diriwiyatkan Anas bin Malik RA dijelaskan bahwa Rasulullah SAW terlihat mengusap air mata sang istri.

"Suatu ketika Shofiyah bersama Rasulullah SAW dalam perjalanan. Sedangkan hari itu adalah bagiannya. Tetapi Shofiyah sangat lambat sekali jalannya, lantas Rasulullah SAW menghadap kepadanya sedangkan ia menangis dan berkata, ‘Engkau membawaku di atas unta yang lamban.’ Kemudian Rasulullah SAW menghapus air mata Shofiyah dengan kedua tangannya.” (HR Nasa’i dalam As-Sunanul Kubra [nomor 9162]).

8. Mengantar Istri

Diriwayatkan dari Ali bin Husein RA, ia berkata:

"Suatu ketika Nabi SAW berada di masjid (Nabawi), sedangkan istri-istrinya ada di dekatnya kemudian mereka pulang. Rasulullah bersabda kepada Shafiyah binti Huyay: 'Jangan buru-buru agar aku bisa pulang bersamamu'," (HR Bukhari [nomor 1897]).

9. Berbincang Bersama Istri di Luar

Kebisaan manis Rasulullah SAW lainnya yakni mengajak istri jalan bersama pada malam hari lalu mengajak berbicara dari hati ke hati.

Hal itu ditunjukkan dalam sebuah hadis, Sayyidah Aisyah RA berkata, "Nabi SAW ketika malam hari berjalan bersama Aisyah, berbincang dengannya." (HR Bukhari dan Muslim).

10. Mengajak Istri Keluar Kota secara Bergantian

Dalam sebuah hadis Sayyidah Aisyah RA berkata, "Rasulullah SAW itu ketika henda bepergian akan mengundi di antara istri-istrinya. Siapaun udiannya yang keluar, maka beliau akan pergi bersamanya" (HR Bukhari dan Muslim).

11. Mengajak Istri Makan di Luar

Selain mengajak keluar kota, Rasulullah juga kerap mengajak istri makan di luar rumah.

Diriwayatkan dari Anas RA, ia berkata:

Artinya: "Seorang lelaki Persia yang merupakan tetangga Nabi SAW mempunyai kuah kaldu paling sedap. Kemudian dia membuat makanan dan mendatangi Nabi SAW lantas mengundangnya untuk makan, sedangkan Aisyah berada di samping Nabi. Kemudian Nabi SAW berkata, ‘Yang ini bagaimana?’ Ia menunjuk Aisyah dan berkata, "Tidak" Kemudian memberi isyarat kepadanya, "Bagaimana dengan ini?” Dia berkata, "Tidak".Kemudian Nabi memberi isyarat yang ketiga kalinya dan bersabda, "Ini bersamaku?". Kemudian ia berkata, "Ya".(HR Ibnu Hibban [nomor 5301], Abu Ya’la [nomor 3261], dan Darimi [nomor 2119]).

12. Menenangkan Amarah Istri dengan Cara Unik

Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah meriwayatkan hadis dari Sayyidah Aisyah RA.

Artinya: "Ketika Aisyah marah, maka Nabi SAW mencubit hidungnya dan berkata, "Wahai 'Uwaisy (panggilan kecil Aisyah), katakanlah, 'Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan'".

13. Mengutamakan Wanita (Ladies First)

Selain 12 poin di atas, keromantisan Nabi Muhammad SAW ditampilkan lewat sikapnya yang memberikan pelayanan optimal kepada sang istri.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, dalam sebuah hadis perjalanan pulang dari penaklukan Khaibar.

"Kami keluar menuju Madinah. "Anas berkata, "Aku melihat Rasulullah SAW menyiapkan tempat duduk Shafiyah di belakangnya dengan kain, kemudian ia duduk di dekat untanya dan memosisikan lututnya, lantas Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau hingga naik (ke unta)."" (HR Bukhari)

14. Memberikan Panggilan Khusus

Sementara itu, dalam sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW juga memberikan panggilan khusus kepada istrinya Sayyidah Aisyah RA.

Panggilan pertama yakni "Ya Aisy" yang merupakan pemenggalan huruf terakhir nama Aisyah. Sementara panggilan kedua yakni "Ya Uwaisy" dari pemenggalan huruf terakhir sekaligus panggilan kecil.

Konon dalam budaya Arab, pemenggalan huruf akhir serta panggilan kecil menunjukkan tanda sayang atau panggilan manja.

Sementara itu dalam hadis seperti yang diriwayatkan Ibnu Majah, An-Nasa'i dalam As-Sunanul Kubra, At-Thabrani dalam Al-Mu'jamul Kabir, Baihaqi dalam Syu'abul Iman hingga Al-Hakim, Rasulullah juga memberikan panggilan khusus kepada Sayyidah Aisyah.

Beliau memanggil istrinya tersebut dengan "Humaira'" yang memiliki arti putih kemerah-merahan.

"Beliau (Rasulullah SAW) sering memanggil (Aisyah)"Ya Humaira'" yang merupakan bentuk tasghir (panggilan kecil) dari "Hamra" (merah) sedangkan yang dimaksud adalah putih" (Ibnu Atsir dalam kitab An-Nihayah).

Demikianlah 14 poin keromantisan Rasulullah SAW kepada istrinya.

Imam Abdullah El-Rashied, alumnus Fakultas Syariah–Imam Shafie College, Mukalla, Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman.

Monday, 8 May 2017

Kata-kata Mutiara dari Umur bin Khattab ra.

Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri menunjukkan kata-kata lemah lembut
***
Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yg menimbulkan persangkaan maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk padanya
***
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan,”
(Shifatush Shafwah, I/286) Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
Tidak ada ertinya Islam tanpa jemaah dan tidak ada ertinya jemaah tanpa pemimpin dan tidak ada ertinya pemimpin tanpa ketaatan
***
Aku tidak pedulikan atas keadaan susah atau senangku kerana aku tidak tahu manakah diantara keduanya yang lebih baik dariku
***
"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
“Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai,” (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126) Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
Kalau kita bermewah-mewah di dunia akan kurang ganjarannya di akhirat
***
“Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya,” (Ihya’ Ulumuddin 4/203) Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
Apabila engkau melihat orang yang berilmu mencintai dunia, maka curigailah ia mengenai agamanya, kerana orang yang mencintai sesuatu ia akan menyibukkan diri dengan apa yang dicintainya itu
***
“Duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah,” (Tahfdzib Hilyatul Auliya I/71) Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rizki yang lebih baik daripada sabar," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
"Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang karena mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau," Sayyidina Umar bin Khattab RA
***
Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
***
Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
***
Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
***
Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
***
Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
***
Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.